Pages

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

kisah Syaikh Bin Baz & kaum muslimin China

Ada kisah menarik yang pernah dituturkan oleh Dr. Muhammad ibn Sa’d ash-Shuway’ir. Beliau bertutur,

“Waktu itu musim haji tahun 1986. Ini adalah tahun pertama Negara Komunis Cina mengizinkan kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.

Di antara rombongan haji dari Cina tersebut, ada beberapa orang ulama Cina yang ingin bertemu dan menyampaikan salam kepada Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz.

Pemimpin para ulama ini adalah seorang ulama tua lulusan Universitas Al Azhar Mesir.
Ketika itu mereka masuk ke dalam ruangan Syaikh Bin Baaz. Di ruangan tersebut telah berkumpul beberapa orang. Pemimpin rombongan dari Cina memberikan salam kepada mereka, lalu bertanya,

“Di mana Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz? Kapan beliau akan tiba di sini?”
Salah seorang berkata, “Itu beliau, yang baru saja Anda beri salam…”

Ulama Cina tersebut seolah-olah tidak percaya…
Dengan bahasa Arab yang fasih dia terus meminta, “Saya ingin bertemu beliau sekarang.”
Aku pun mengatakan padanya, “Inilah Syaikh Ibn Baaz!” sambil menunjuk Asy Syaikh Ibn Baaz.

Orang tua tersebut lalu berdiri dan memperkenalkan diri kepada Asy Syaikh Ibn Baaz sebelum akhirnya menyalami beliau untuk yang kedua kalinya.

Aku pun membisiki Asy Syaikh Ibn Baaz, mengabarkan kepada beliau bahwa orang tua tersebut sangat ingin bertemu dengan beliau. Asy Syaikh Ibn Baaz lalu berdiri untuk memeluk orang tua itu. Orang itu lalu memeluk erat Asy Syaikh Ibn Baaz, kepalanya merapat di dada Asy Syaikh, menangis sambil berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah mengizinkanku untuk bertemu dengan mu wahai Syaikh… Di Cina kami sering mendengar tentangmu… Bahwa engkau selalu menebar harapan bagi setiap muslim, selalu mendukung mereka di mana pun mereka berada.”

Jumat, 17 Agustus 2012

Ummu Sulaim pemilik Mahar Termulia

Ketika aku memasuki surga, aku mendengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “Siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)
Nama aslinya adalah Ghumaisho’ dan juga dipanggil dengan Rumaisho’ binti Milhan dari kaum Anshor, atau yang lebih dikenal dengan kunyahnya yaitu Ummu Sulaim . Ia adalah sosok wanita yang selalu dekat dengan Rosululloh.

Sungguh besar sekali rasa ghibthoh(1) Ghumaisho’ binti Milhan saat melihat orang-orang menyambut kedatangan Rosululloh yang hijrah dari Makkah tiba di Madinah. Mereka menemui beliau dengan membawa hadiah sebagai ucapan selamat datang. Ia berpikir apa yang akan ia hadiahkan kepada Rosululloh, sedangkan ia tidak memiliki harta yang dapat dihadiahkan, sebab ia hanya seorang janda miskin yang ditinggal mati suaminya. Suaminya hanya meninggalkan untuknya seorang putra, … sampai di sini pikiran Ghumaisho’ tersentak, sadar bahwa ternyata ia memiliki sesuatu yang sangat berharga. Ya, …seorang putra! Ia berpikir mengapa tidak ia hadiahkan saja putranya, Anas, yang sedari kecil telah Rosululloh talqinkan dua kalimat syahadat kepadanya, sehingga membuat suaminya, Malik bin Nadhor, yang musyrik menjadi marah dan menghardiknya (seraya berkata): “Jangan engkau hancurkan kehidupan anakku!” Ummu Sulaim membantah: “ Justru sebaliknya, saya menyelamatkannya.”
____________________________________________________________
(1)“ Ghibthoh adalah perasaan iri terhadap orang lain dalam berbuat kebaikan dan amal sholih. Iri seperti ini dibolehkan dalam agama. (lihat Shohih Bukhori hadits no. 73 dalam Kitabul Ilmi).